Menyebutnya saja membuat hati berbinar,
membayangkan semua rutinitas di tahun2 lalu..
Bulan ramadhan memang bulan yang paling dirindu semua kaum muslimin,
karena memang bulan yg penuh berkah, bulan penuh rahmat, bulan yang menyucikan diri dan jiwa...
Melihat ke belakang,
ramadhan kala itu masih menyisakan memori2 yang tak terlupakan.
Saat masih SMP, hari menjelang fajar setelah subuh adalh masa ramai2nya ramadhan kala itu.
Setelah subuh, banyak orang2 yang keluar untuk menikmati segarnya udara pagi hari.
Aku ingat benar, sehabis subuh, dihampiri temanku yang sudah siap untuk menuju ke jalan raya,
jalur keramaian orang2, sekitar 5 blok dari tempat kami.
Aku tak tau, padahal di sana kala itu masih banyak tempat2 yang gelap tanpa lampu,
tapi keberanian di bulan itu mengalahkan segalanya. Just a fun memory...
Masa2 itu, aku ingat benar, diriku masih di rumah lama,
rumah kecil yang penuh rahmat, rumah yang sejuk karena pohon bebuahan yg hijau dan subur.
Ramadhan kala itu, adalah momen diriku masa kecil yang jauh dari kesepian,
dekat dengan kebersamaan, keramaian.
Haha, tapi bukan berarti sekarang aku menjadi kesepian.
Hanya saja masa kecilku itu sangat sangat menyenangkan....
Pernah di bulan ramadhan, malam sepulang dari sholat tarawih di masjid
Nurul Huda (dan madrasah masa kecilku), aku dengan teman2ku pulang bersama.
Kami bercanda hingga seseorang diantara kami melihat sesuatu yang membuat kami panik.
Sekitar seratus meter dari rumahku, di jalan sebelum rumah mbah,
samping kanan jalan yg kami lalui, ada kebun yang tidak lebat sehingga
langit malam pun jelas terlihat. Kembali ke cerita, waktu itu salah seorang
dari kami dan diikuti kami semua melihat cahaya yang meluncur, jatuh dari langit.
IT WAS METEOR!!
ya, itu meteor... yang membuat kami panik kala itu adalah ukuran yang tampak besar,
seolah terlihat jelas benda dari kepalanya hingga ekornya yang panjang berkobar....
Sangking paniknya, fenomena langka yang seharusnya bisa kami nikmati,
justru seolah menjadi momok yg menakutkan dan membuat kami
LARI SEKENCANG-KENCANGNYA!!!
HAHAHAHA
(ketawa geli)
Itu satu2nya fenomena hujan meteor terjelas yang aku lihat langsung selama hidupku..
Ada lagi, saat jalan2 setelah subuh..
Kurang lebih waktu itu sudah hmpir penghabisan ramadhan.
Pagi itu kami jalan2 dengan bawaan kembang api.
Waktu itu, paman salah seorng temen kami berjualan kemban api berbagai jenis,
dan salah satunya yang meluncur seperti roket dengan suara yang lumayan berisik,
kami bawa untuk jalan pagi. Umumnya, kembang api itu yg menyalakan adalah orang2 yg lebih dewasa, dengan cara mengapitnya diantara dua jari dan membiarkannya meluncur kala telah waktunya.
Setelah sampai di jalan yang ramai, kami berniat menyalakan kembang api roket itu.
Diriku tentunya tidak berani untuk memegang karena takut.
Akupun ingat betul, kusarankan teman yang lain untuk menyangga kembang api itu
dengan batu atau kayu saja, jangan dipegang.
Mungkin namanya masih labil (Ababil), salah seornag teman perempuan
dengan beraninya hendak memegang kembang api itu agar meluncur.
Kami pun mengikutinya....
Kembang api itu pun disulut sumbunya, sehingga detik2 peluncuran yg kami nanti2 dapat berlangsung.
Tapi oh tapi, temanku itu bukannya melepaskan kembang api setelah berbunyi,
justru melepaskannya sebelum berbunyi, alhasil kembang api itu pun jatuh
dan beberapa detik kemudian...
CCIIIIUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU
Pretek pretek pretek Pretek......................
Dengan hasil meluncur horizontal dipermukaan tanah dan meletus tepat disemak alang2...
Hahaha... Ora keren Blas!!
(geli bangeet)
Yaaah, penonton kecewa...
Ramenya malam takbiran, ramenya bulan ramadhan kala itu masih membekas.
Ramadhan kala aku SMA sdh dgn kondisi berbeda.
Karena kami sekolah di tempat yg berbeda2,
membuat masa ramadhan yg penuh dgn riuh rendah seperti nuansa kanak2 kami, tak bisa terulang.
Di saat ini, ibadah dgn keridhoan hati lebih utama.
Kalo waktu kecil, tarawih 20an rokaat bisa di korting setengahnya (hahaha),
kali ini kita harus jadi contoh buat adik2 kita.
Kalo dulu, swaktu masih ababil, habis terawih langsung aja pulang,
mesti diteriakin ustad dulu biar tadarus (hihihihi),
lah waktu setingkat lebih gede, malu atuh kalo kudu dipanggiling Ustad, hehehe..
Swaktu SMA, kami (aku dan temen2 kecilku) punya waktu reunian,
Ya di malam Ramadhan, setelah tarawih, Tadarus bareng..
Pun sampai aku kuliah, momen pertama kami kumpul lagi, ya pertemuan waktu tarawih...
Indahnya bulan ramadhan...
Nuansa ramadhan, akan terulang sebentar lagi, Buka puasa, Sahur, Tarawih, Tadarus...
Membayangkan kampung halaman, di tahun ini aku belum tau
bakal menghabiskan berapa hari untuk puasa di rumah dgn masakan ibu.
Dalam bayanganku, hanya 7 hari, akhir. Huuuaaa
Yang jelas, meski hanya sehari puasa di rumah di tahun ini,
Lebaran nanti bukan saja punya baju baru, tapi juga
GELAR BARU...
Ninuk GIlang Wiranti, S.TP.
Amiiin Yaa Robbal 'alamin
















Tidak ada komentar:
Posting Komentar